Selama bertahun-tahun, saya percaya satu nasihat yang sangat populer: temukan passion-mu, lalu jadikan itu pekerjaan. Kedengarannya masuk akal, bahkan mulia. Jika kita bekerja sesuai passion, katanya, kita tidak akan merasa lelah, tidak akan bosan, dan uang akan mengikuti.
Masalahnya, pengalaman pribadi saya tidak berjalan seperti itu.
Bukan karena saya tidak punya passion. Justru sebaliknya, saya punya terlalu banyak. Dan di situlah masalahnya dimulai.
Passion Itu Berubah, Energi Lebih Jujur
Passion sifatnya fluktuatif. Hari ini terasa menyala, besok bisa redup. Saya sering masuk ke sebuah bidang dengan antusias penuh, belajar serius, membangun sesuatu dengan niat jangka panjang. Lalu, di tengah jalan, energi saya habis. Bukan karena tidak mampu, tapi karena rasa berat yang muncul terus-menerus.
Di titik itu, saya biasanya menyalahkan diri sendiri: kurang konsisten, kurang disiplin, kurang sabar.
Belakangan saya sadar, masalahnya bukan di mentalitas. Masalahnya ada di arah.
Energi memberi sinyal yang lebih jujur daripada passion. Ada pekerjaan yang secara teori menarik, tapi setiap kali dikerjakan terasa menguras. Ada juga pekerjaan yang tidak terdengar glamor, tapi bisa saya lakukan berulang kali tanpa drama batin.
Energi tidak berbohong.
Bekerja Lama Itu Soal Daya Tahan, Bukan Semangat Awal
Banyak orang bisa memulai sesuatu. Jauh lebih sedikit yang bisa bertahan.
Dalam jangka panjang, yang menentukan bukan seberapa besar semangat di awal, tapi seberapa ringan sebuah pekerjaan bisa dibawa dalam hidup sehari-hari. Saya mulai bertanya pada diri sendiri:
- Pekerjaan apa yang bisa saya lakukan saat kondisi mental biasa saja, bukan hanya saat termotivasi?
- Aktivitas apa yang masih terasa masuk akal meski tidak sedang “mood”?
- Pekerjaan apa yang tidak membuat saya ingin kabur setelah beberapa bulan?
Jawaban-jawaban ini tidak datang dari passion, tapi dari observasi energi.
Energi Lebih Relevan untuk Founder dan Builder Aset
Bagi founder, freelancer, atau siapa pun yang ingin membangun sesuatu dalam jangka panjang, energi adalah variabel krusial. Kita tidak hanya bekerja satu proyek, tapi membangun sistem, media, aset, dan reputasi.
Jika sumber penghasilan terasa berat setiap hari, skalabilitas jadi ilusi. Bukan karena model bisnisnya salah, tapi karena manusia di dalamnya kelelahan.
Saya mulai memilih pekerjaan yang:
- tidak menguras emosi secara konstan
- bisa dikerjakan berulang tanpa resistensi mental
- memberi ruang untuk berpikir, bukan hanya bereaksi
Hasilnya mungkin tidak instan, tapi jauh lebih stabil.
Berhenti Mengejar Passion Bukan Berarti Menyerah
Penting untuk diluruskan: berhenti mengejar passion bukan berarti hidup tanpa arah atau bekerja asal-asalan. Ini bukan tentang menjadi dingin atau apatis.
Passion sering bikin orang mulai. Energi yang bikin orang bertahan. Ini tepat menegaskan bagian soal daya tahan jangka panjang.
seperti kata Paul Graham : “People who are successful are not the ones who find the best ideas, but the ones who stick with them.”
Ini tentang mengganti pertanyaan.
Dari:
“Apa yang paling aku cintai?”
Menjadi
“Apa yang bisa aku jalani lama tanpa kehilangan diriku sendiri?”
Pertanyaan kedua jauh lebih relevan untuk kehidupan nyata, terutama jika tujuan kita bukan hanya bertahan hidup, tapi membangun sesuatu yang tahan lama.
Penutup: Energi Adalah Kompas yang Lebih Praktis
Hari ini, saya tidak lagi menjadikan passion sebagai kompas utama. Saya menjadikannya bonus. Yang utama adalah energi.
dan BWP adalah energi saya saat ini.
Jika sebuah pekerjaan:
- terasa ringan secara mental
- tidak membuat saya ingin kabur
- masih masuk akal meski tanpa validasi
maka itu kandidat yang layak dibangun.
Dalam dunia yang terlalu sibuk menyuruh kita “mengikuti passion”, memilih energi terasa seperti keputusan sunyi. Tapi justru di sanalah, untuk saya, arah mulai terasa jelas.
