Ada satu pertanyaan yang terus berulang di kepala saya selama bertahun-tahun:
pekerjaan apa yang bisa saya jalani dalam jangka panjang tanpa kehilangan rasa puas?
Awalnya saya mengira jawabannya sederhana. Masalahnya ada di disiplin. Kurang konsisten. Kurang sabar. Terlalu cepat menyerah. Narasi klasik yang sering kita lempar ke diri sendiri saat sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Namun setelah cukup lama mengamati pola saya sendiri, saya mulai sadar: ini bukan masalah mental semata. Ini masalah arah.
Shiny Object Syndrome yang Terlihat “Masuk Akal”
Saya mengalami apa yang sering disebut shiny object syndrome.
Setiap kali melihat peluang yang terlihat rasional dan menjanjikan, saya masuk. Saya bangun dengan serius. Saya kerjakan sungguh-sungguh. Bukan sekadar coba-coba. Namun ketika fase sulit datang, progres melambat, dan energi terkuras, rasa lelah itu muncul.
Di titik itu, pikiran saya mulai menoleh ke belakang.
Ada model lain.
Ada pendekatan baru.
Ada peluang yang terlihat lebih segar.
Dan tanpa disadari, siklus yang sama terulang.
Industrinya Sama, Tapi Lelahnya Tetap Ada
Yang menarik, industrinya hampir tidak pernah benar-benar berubah.
Saya selalu berada di medan yang sama: dunia digital. Website, AI, bisnis online, penjualan, aset digital. Polanya konsisten. Skill intinya relevan. Yang berubah hanya bentuk dan objeknya.
Namun kelelahan itu tetap muncul.
Ini penting, karena artinya masalahnya bukan pada industrinya. Juga bukan karena saya “tidak cocok” dengan dunia digital.
Nasihat Founder yang Benar, Tapi Tidak Lengkap
Seperti kebanyakan founder lain, saya mencari jawaban.
Membaca buku.
Mendengar podcast.
Mengikuti mentor.
Hampir semuanya bermuara pada satu nasihat yang sama:
stick to the plan, kunci satu posisi, dan konsisten.
Nasihat itu tidak salah. Bahkan sangat masuk akal. Masalahnya, pikiran saya tidak pernah benar-benar tenang. Ada satu pertanyaan yang terus muncul, berulang-ulang:
Apa sebenarnya yang saya kejar?
Menarik Garis ke Belakang, Bukan ke Depan
Di satu titik, saya berhenti mencari jawaban ke peluang berikutnya. Saya justru menarik garis ke belakang. Bukan ke tools. Bukan ke tren. Bukan ke industri.
Tapi ke alasan paling awal mengapa saya masuk ke dunia ini.
Jawabannya sederhana. Klise, bahkan.
Saya ingin kekayaan.
Saya ingin aset yang bekerja.
Saya ingin kebebasan waktu.
Bukan sekadar sibuk.
Bukan sekadar terlihat produktif.
Bukan sekadar “punya bisnis”.
Kesalahan yang Baru Saya Sadari
Dari refleksi itu, saya menyadari satu hal penting:
Masalah saya bukan karena terlalu banyak ide, tapi karena terlalu sering mengunci cara, bukan tujuan.
Saya mencari kepuasan di bentuk pekerjaan. Padahal yang saya butuhkan adalah kendaraan yang tepat untuk membawa saya ke tujuan yang jelas.
Begitu tujuannya kabur, konsistensi justru berubah menjadi jebakan.
Fokus Baru: Membangun Aset, Bukan Sekadar Aktivitas
Hari ini, saya memilih untuk fokus membangun aset.
Saya mulai dari aset digital. Bukan karena ini satu-satunya jalan, tapi karena ini kendaraan yang paling masuk akal untuk kondisi dan skill saya saat ini. Tujuannya sederhana: aset ini bisa menghasilkan uang untuk bertahan, sambil memberi ruang untuk bertumbuh tanpa harus terus menukar waktu dengan uang.
Ini belum akhir cerita. Saya belum sampai.
Namun untuk pertama kalinya, arah saya jelas. Dan bagi saya, itu jauh lebih penting daripada terlihat konsisten di jalan yang salah.
Tidak selalu. Shiny object syndrome menjadi masalah ketika seseorang terus berpindah tanpa tujuan yang jelas. Namun jika eksplorasi dilakukan untuk menemukan kendaraan terbaik menuju tujuan yang spesifik, fase “lompat-lompat” justru bisa menjadi proses validasi yang sehat.
Kurang konsisten biasanya ditandai dengan sering berhenti tanpa alasan strategis. Sementara salah mengunci arah terasa berbeda: meski konsisten dan bekerja keras, rasa lelah mental tetap muncul karena aktivitas yang dijalani tidak selaras dengan tujuan hidup atau finansial yang sebenarnya.
